Satu Tahun Arlan–Franky Pimpin Prabumulih, Kerja Nyata Mulai Terlihat dan Dirasakan

 


PRABUMULIH,Potretsumsel.id – Satu tahun kepemimpinan Wali Kota Prabumulih H. Arlan bersama Wakil Wali Kota Franky Nasril bukan sekadar deret janji politik. Dalam 12 bulan terakhir, keduanya menghadirkan kerja nyata yang terlihat, terukur, dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Sejak hari pertama menjabat, Arlan–Franky menancapkan fondasi perubahan dari dalam birokrasi. Disiplin aparatur sipil negara (ASN) diperketat. Tidak ada lagi ruang bagi pegawai yang bekerja setengah hati. Arlan menegaskan, pelayanan publik adalah harga mati. ASN yang melanggar aturan diperingatkan, bahkan terancam sanksi tegas hingga pemecatan.

“Pemerintah harus hadir cepat, tepat, dan dapat dirasakan manfaatnya,” tegas Arlan dalam berbagai kesempatan.



Di saat banyak daerah masih berkutat pada wacana, Prabumulih bergerak lewat aksi. Sejumlah aset pemerintah yang lama terbengkalai kembali dihidupkan. Islamic Center difungsikan kembali sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat.

Rusunawa yang sempat “mati suri” disulap menjadi pusat layanan publik. Kini bangunan tersebut menampung kantor Petro Prabu, Dinas Perikanan, hingga Dinas Sosial. Gedung yang sebelumnya kosong, kini aktif melayani warga setiap hari.

Perubahan signifikan juga terasa di sektor kesehatan. Manajemen RSUD Kota Prabumulih yang sebelumnya kerap dikeluhkan, dibenahi secara menyeluruh. Sistem pelayanan ditata ulang, fasilitas diperkuat, dan akses kesehatan diperluas.

Hasilnya bukan sekadar klaim. Awal tahun 2026, Pemerintah Kota Prabumulih meraih Penghargaan Deklarasi dan Pencapaian Universal Health Coverage (UHC) kategori Madya. Penghargaan tersebut diserahkan dalam forum nasional di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran oleh Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia kepada wali kota sebagai bentuk pengakuan atas keberhasilan menjamin layanan kesehatan bagi hampir seluruh warga.



Bagi Arlan–Franky, kesehatan bukan sekadar program populis. “Kalau rakyat sehat, mereka produktif. Kalau produktif, ekonomi ikut tumbuh,” ujarnya.

Penataan kota pun berjalan tanpa kompromi. Kawasan Jalan M. Yamin dan Jalan Jenderal Sudirman yang selama bertahun-tahun sesak oleh pasar tumpah dan lapak liar, kini kembali pada fungsinya. Trotoar dibersihkan, parit dibuka, dan badan jalan ditertibkan.

Kebijakan pemindahan pasar subuh ke eks Polsek Prabumulih Timur membuahkan hasil. Bukan hanya memberikan kenyamanan bagi pengguna jalan, pedagang dan pembeli kini mendapatkan tempat yang lebih layak. Dampaknya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) mulai terdongkrak.

Saat masih ditemukan pedagang yang nekat berjualan di atas bahu jalan dan saluran air, Arlan turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak). Tanpa ragu, ia memerintahkan pembongkaran.

“Kami tidak melarang mencari rezeki. Tapi harus tertib. Jangan merugikan masyarakat luas,” tegasnya di lokasi penertiban.

Di sektor sosial, program pemerintah pusat turut dipacu. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan melalui belasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mendukung kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Program Koperasi Desa Merah Putih juga mulai menggeliat, membuka peluang ekonomi baru di tingkat akar rumput.

Di bidang pendidikan, selain menyukseskan program MBG, janji politik seragam sekolah gratis telah dirasakan manfaatnya oleh siswa-siswi dan orang tua.

Program unggulan lainnya di sektor ketahanan pangan menyasar petani dan kelompok tani melalui pembukaan lahan serta pembagian bibit gratis. Hasilnya, panen jagung melimpah di beberapa wilayah Kota Prabumulih.

Persoalan klasik seperti sampah dan banjir juga menjadi perhatian serius. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kembali dioperasikan, pengelolaan diperkuat melalui Dinas Lingkungan Hidup. Normalisasi sungai digencarkan hingga wilayah perbatasan Muara Enim guna mengurangi risiko banjir di kawasan bantaran.

Di sisi lain, program bedah rumah terus dilanjutkan bagi warga yang membutuhkan hunian layak. Bahkan, Pemkot Prabumulih berkolaborasi dengan pihak swasta seperti Indomaret dan Alfamart untuk membangun hunian bagi masyarakat kurang mampu.



Semua langkah tersebut mungkin terlihat teknis, namun dampaknya nyata: lingkungan lebih bersih, jalan lebih rapi, pelayanan lebih cepat, dan warga merasa diperhatikan.

Setahun memang bukan waktu panjang untuk menyelesaikan seluruh persoalan kota. Namun cukup untuk menunjukkan arah perubahan. Di bawah duet Arlan–Franky, Prabumulih menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus besar dan gaduh. Ia bisa hadir melalui langkah-langkah kecil yang konsisten—dan dari situlah kepercayaan publik tumbuh.

“Kami berkomitmen mewujudkan perubahan masyarakat makmur dan sejahtera. Tentunya kami tetap meminta dukungan dari seluruh lapisan masyarakat untuk bersama membangun Kota Prabumulih,” pungkasnya.

Dengan semangat visi “Prabumulih MAS – Masyarakat Makmur dan Sejahtera”, keduanya merangkul seluruh elemen masyarakat. Sebab membangun kota bukan hanya tugas pemerintah, melainkan kerja bersama.

Satu tahun telah berlalu. Jejak perubahan mulai terlihat. Tantangan masih panjang. Namun Prabumulih kini sedang bergerak—bukan berjalan di tempat. (Adv)

Share on Google Plus

About Potret Sumsel

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 Comments:

Posting Komentar