PRABUMULIH,Potretsumsel.id – Perlintasan sebidang kereta api di Jalan Pakjo, Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Prabumulih Timur, Kota Prabumulih, kembali menjadi sorotan setelah kecelakaan maut terjadi pada Kamis (27/8/2026) sore.
Perlintasan yang selama ini menjadi akses utama masyarakat tersebut diketahui belum dilengkapi pintu perlintasan resmi. Kondisi itu dinilai sangat rawan dan telah berulang kali memicu kecelakaan yang menyebabkan korban jiwa.
Kecelakaan terbaru terjadi sekitar pukul 15.30 WIB ketika KA Bukit Serelo relasi Lubuk Linggau–Palembang menabrak sebuah mobil Isuzu Panther warna putih yang melintas di perlintasan tersebut. Akibat kejadian itu, lima orang menjadi korban. Empat orang dilaporkan meninggal dunia, sementara satu korban lainnya mengalami kondisi kritis dan menjalani perawatan intensif.
Tragedi tersebut mendapat perhatian serius dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aliansi Pemuda Masyarakat (APM). Organisasi itu mendesak PT Kereta Api Indonesia (KAI) segera mengambil langkah konkret dengan membangun pintu perlintasan resmi guna meningkatkan keselamatan masyarakat.
Ketua Umum LSM APM, Adi Susanto, SE, didampingi Ketua DPD APM Abi Rahmat Rizki dan Sekretaris Jenderal Rendi Barlindo, menegaskan bahwa perlintasan Jalan Pakjo telah lama menjadi titik rawan kecelakaan.
“Ini sudah sering kejadian dan makan korban. Kita desak PT KAI bangun pintu perlintasan resmi di lokasi itu. Jangan sampai ada lagi nyawa melayang sia-sia,” tegas Adi.
Menurutnya, keberadaan pintu perlintasan resmi sangat penting karena lokasi tersebut setiap hari dilalui masyarakat. Dengan sistem pengamanan yang memadai, risiko kecelakaan dapat ditekan dan keselamatan pengguna jalan lebih terjamin.
Adi juga menyatakan bahwa apabila tuntutan tersebut tidak mendapat respons dari PT KAI, pihaknya siap menggelar aksi demonstrasi besar-besaran sebagai bentuk protes dan tuntutan keselamatan masyarakat.
“Kalau itu tidak dilakukan, LSM APM akan menggelar demo besar-besaran dan menyiapkan 5 ribu massa di Stasiun KAI Prabumulih,” ujarnya.
Selain mendesak pembangunan pintu perlintasan, Adi turut menyoroti tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat sekitar jalur kereta api. Ia menilai PT KAI yang telah beroperasi dan melintas di wilayah Prabumulih selama puluhan tahun perlu memberikan kontribusi nyata melalui pembangunan fasilitas keselamatan.
“PT KAI ini melintas di Prabumulih puluhan tahun. Tetapi, tidak pernah lagi ada pembangunan pintu perlintasan resmi. Ayo, gulirkan CSR-nya. Jangan hanya cari untung saja,” katanya.
Lebih lanjut, Adi juga menyinggung dampak operasional kereta api terhadap aktivitas masyarakat, khususnya keberadaan rangkaian KA Babaranjang yang menurutnya semakin panjang dan berpotensi menyebabkan antrean kendaraan serta kemacetan lebih lama saat melintas.
Ia berharap pemerintah daerah dan PT KAI dapat duduk bersama untuk mencari solusi yang mengedepankan keselamatan masyarakat tanpa mengganggu kelancaran operasional perkeretaapian.
“Sudah cukup nyawa melayang sia-sia akibat perlintasan tidak ada pintu. Dengarkan masukan masyarakat dan pemerintah. Bangun pintu perlintasan resmi guna mengurangi lakalantas di perlintasan rel KAI yang berlintasan sebidang dengan masyarakat,” pungkasnya.
LSM APM berharap tragedi terbaru di Jalan Pakjo dapat menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap seluruh perlintasan sebidang di Kota Prabumulih, terutama yang menjadi akses vital masyarakat namun belum memiliki sistem pengamanan yang memadai.

0 Comments:
Posting Komentar